Tuesday, June 5, 2018

Laut berbicara lewat tsunami









Laut berbicara lewat tsunami
Karya  : Beni Purna I.

Ketika aku terbelenggu oleh carut marut kehidupan
Oleh takdir yang sudah ditentukan
Aku sempat putus asa oleh kegagalan
Namun, batu karang di laut mengajarkanku untuk tetap kuat
Meskipun dihempas kerasnya ombak

Ku pejamkan mata perlahan
Merasakan belaian angin yang membalut perih
Suara desah ombak yang memecah kesunyian
Dan dekapan hangat sinarmu yang mampu menghapus lara

Kau bak surga dunia
Memanjakan mata dengan tubuh indahmu
Memberikan rizki kepada umat manusia
Menjaga dan melestarikan ekosistem laut

Namun semua itu sirna
Manusia hina
Menjamah dengan paksa tubuh indahmu
Menghancurkan stabilitas ekosistem laut

Laut berbicara lewat tsunami
Menghancurkan bumi
Membunuh ratusan bahkan jutaan manusia
Semoga Engkau mengampuni dosa kami ya Rabb


Sunday, June 3, 2018

Tiada Yang Sempurna









Tiada Yang Sempurna
Oleh : Dyah Budi Utami


          Pagi itu matahari sudah terbit dari ufuk timur. Embun pagi masih menempel di dedaunan. Tertimpa cahaya matahari terlihat kemilau keperak-perakan. Burung-burung pun berkicauan seolah ikut menyambut cerahnya pagi itu.
          Ada dua ekor kupu-kupu bernama Shinta dan Reni yang sedang asyik terbang ke sana ke mari mencari madu.“Reni, di sana ada banyak madu “ kata Shinta mengawali percakapan. “Wah…kita ke sana yuk!” jawab Reni. Mereka terbang menghampiri bunga-bunga yang berada  di tengah-tengah rumpun pohon talas.
          Terlihat Lulu si belalang yang duduk melamun sendirian. “Selamat pagi, Lulu?” sapa Reni. “Eh…selamat pagi juga,” jawab Lulu. “Kalian mau apa kemari?” tanya Lulu penasaran. “Kami mau mengambil madu itu,” jawab Shinta. “O…,silakan,” kata Lulu. Shinta dan Reni menghisap madu yang ada dalam bunga itu.
          Lulu heran melihat Shinta dan Reni. Dia memandangi dirinya sambil berkata dalam hati. “Kok jauh sekali perbedaan diriku dengan mereka ya. Sayap Shinta dan Reni indah sekali. Hampir semua warna ada pada tubuh mereka. Hijau, ungu, kuning, putih, merah, dan masih banyak lagi. Sedangkan aku?” Lulu memandangi dirinya kembali dengan malu. Cuma warna hijau agak coklat yang selalu setia menghiasi dirinya. “ Duh, jeleknya,”  bisik Lulu dalam hati.
          Lulu melamun sesaat meratapi nasibnya. “Hei…pagi-pagi kok sudah melamun,” tiba-tiba pertanyaan Reni mengejutkan Lulu. “Aku merasa malu sama kalian,” jawab Lulu. “Malu sama kami, mengapa?” tanya Shinta penasaran. “Lihatlah diriku! Sayapku jelek tidak seperti sayap kalian. Aku hanya bisa melompat, melompat, dan melompat. Uuhh …menyebalkan,” keluh Lulu. “Begitu saja kok malu. Dulu kami juga jelek bahkan lebih parah darimu,” cerita Reni. “Benarkah itu?” tanya Lulu. “Ya iya lah. Dulu kami berwujud ulat yang sangat buruk. Kami tidak sempurna, berjalan sangat lambat apalagi kalau terkena sinar matahari. Ah…. pokoknya semua jijik ketika melihat kami,” cerita Shinta. Lulu asyik mendengar cerita Shinta dan Reni. “Saat kami jadi ulat bentuk kami sangat buruk, kami pun merasa malu. Tapi, kami tidak putus asa. Kami berdoa pada Tuhan agar kami diberikan perubahan bentuk yang lebih baik. Kami sengaja tidak makan apa pun, tidak minum, dan tidak bergerak sedikit pun. Akhirnya kami pun merasakan perubahan itu. Kami sangat bersyukur usaha yang kami lakukan tidak sia-sia. Dan, hasilnya ya seperti saat ini,” cerita Reni sambil memamerkan sayapnya. “Apa aku boleh berdoa kepada Tuhan?” tanya Lulu. “Tentu saja boleh,” Reni menjelaskan dengan serius.
“Apa wujudku bisa berubah juga seperti wujud  kalian?” tanya Lulu lagi. “Kalau itu kita sih nggak tahu,” jawab Shinta dan Reni serempak. “Semua yang terjadi di dunia ini hanya Tuhanlah yang tahu,” kata Shinta. “Kalau aku puasa, apa Tuhan akan mengabulkan permintaanku?” lagi-lagi Lulu bertanya. “Tuhan akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang wajar-wajar saja. Tapi, mengapa kamu menginginkan perubahan pada dirimu? Kamu sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk berwujud seperti ini, dan kami ditakdirkan oleh Tuhan  mengalami perubahan yang lebih baik pada diri kami. Tapi, siapa tahu Tuhan akan memberikan keajaiban padamu,” jelas Reni. “Ya ampun, hari sudah siang nich, kami harus pulang membantu ibu mencari madu untuk makan malam nanti,” kata Shinta. “Selamat tinggal Lulu, daaah…sampai jumpa besok ya,” sapa Shinta dan Reni pada Lulu. “Ya, sampai jumpa besok, kita main bareng lagi ya,”  kata Lulu.

Monday, May 21, 2018

Legenda Tambaksari, Kejawang, Sruweng








Asal-usul Dukuh Tambaksari, Kejawang, Sruweng, Kebumen
Karya  : Inas Ghojanah 

Mbiyen ana kerajaan Mataram Islam dipimpin nang Mas Jolang (1601-1613) sing gelare Sultan Anyakrawati. Sawise dipimpin nang Mas Jolang diterusaken nang Mas Rangsang sing gelare Sultan Agung (1613-1645 M). Ceritane mbiyen kerajaan kiye wis tau jaya ngasik Jawa Barat karo Jawa Timur mlebu ring wilayah kekuasaane. Jawa Tengah didadikna wilayah nggo nyebaraken agama Islam.

Sultan Agung prentah meng aring punggawa kerajaan : Bondan Kejawan, Yai Sekar Arum, Syeh Albashari, karo punggawa liyane dadi ana pitu punggawa sing nyebaraken agama Islam nang daerah Kebumian sing siki luwih dikenal karo sebutan Kebumen. Agi mengembara, Sultan Agung kue singgah nang bukit sing lumayan duwur nggone karo nggon liyane. Seteruse bukit kue didadikan nggon ngaso aring Sultan Agung karo kanca-kanca punggawa liyane. 

Sultan Agung nek lagi nyiaraken agama Islam mesti wanti-wanti karo nei wasiat ngajak kabeh warga mlaku nang dalan sing bener. Men uripe tentrem, kabeh kudu bisa bendung hawa nafsu Insya-Allah bakal ulih ridho sekang Gusti Allah Swt. Seurunge lunga kan nggon mau, Sultan Agung ngumpulaken kabeh warga karo ngenei jeneng nggon kue sing dijenengi Tambaksari. Tambaksari due arti karo tujuan men manungsa isa ngendalikena hawa nafsu. Sawise dirasa cukup, Sultan Agung bali meng Kota Gede terus dipindah meng aring Plered. 

Guru Tercinta




Guru Tercinta
Karya : Aisha Ratri Salsabila

Sapa hangat penuh senyum semangat
Kau tebarkan ilmu yang bermanfaat
Demi anak didik kau berikan nasihat
Jasa mulia goncangkan akhirat

Nyanyian mentari terangi alam
Terangi mimpi yang kian temaram
Masa depan bangsa telah kau perjuangkan
Wakafkan waktumu demi masa depan

Terima kasih aku ucapkan
Syair sederhana yang ku lantunkan
Untuk jasa besarmu yang tak terlupakan
Mengalun indah dalam lubuk sanubari terdalam

Balasan Surat Cinta





Kabar baik. Bagaimana denganmu? Semoga Alloh juga senantiasa memberimu kesehatan. Sebelum kamu cerita ini padaku, aku juga dah tau tentang musibah yg sedang kamu alami. Ya, Nur Khamidah yg cerita ke aku pas aku main ke rumahnya. Katanya kamu kehilangan laptop. Dan aku jg dengar kbr itu dari Reza. Aku turut prihatin ya, yg sabar saja. Aku ikut berdoa untukmu, semoga laptopnya segera kembali bagaimanapun caranya. Tega banget ya pelakunya. Ya Alloh, sungguh aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisi kamu. Aku tau pasti di dalam laptop itu tersimpan data-data penting, terutama skripsimu. Dan otomatis kamu harus menulis ulang skripsimu, bukan begitu? Aku aja yg kehilangan flashdisk rasanya eman-eman banget sama data yg hilang. Cinta? Apakah tentang persoalan rasa? Ya tentu persoalan rasa. Tapi juga persoalan waktu dan juga kebiasaan. “Tresno jalaran soko kulino”. Tapi entah kenapa aku sampai saat ini pun belum bisa membalas rasa itu. Karena apa? Karena banyak hal. Yang aku sayangkan darimu, kenapa kamu memilih pergi.

Apakah Cinta Serumit Ini?





Apakah cinta serumit ini?
Karya  : Beni Purna I, S. Pd.

Lama tak ada perbincangan di antara aku dan dia. Apa kabarnya dia sekarang? Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan nikmat kesehatan untuk dia beserta keluarganya. Maafkan aku karena belum sempat mengirimkan cerita-cerita untuknya lagi. Aku masih ingat sekali pinta dia yang ingin membaca-baca ceritaku. Namun sayang, semuanya telah memudar bak goresan tinta yang mulai luntur. Meninggalkan bekas lara. Jadi aku akan tetap berusaha memberikannya ini. Potongan hidupku setelah kamu meninggalkanku dan memutuskan untuk hilang. Dia tak pernah tahu apa yang terjadi padaku setelah itu.

“Apakah cinta hanya persoalan rasa?”
“lantas jika rasa itu memudar apakah cinta juga ikut sirna?” pertanyaanku waktu itu.
Entah kenapa pertanyaan itu masih bercokol kuat dalam hatiku sampai saat ini. “Mungkin memang benar cinta hanya persoalan rasa” gumamku ditengah kesedihan dan keputus asaan. Aku tak perlu sok kuat. Memang kenyataannya aku seperti ini. Aku sering mendapati diriku menangis. Bagiku, menagis itu dapat mencairkan suasana hati. Jadi sampai kapan pun aku akan tetap dapat menangis. Entah kenapa di saat aku benar-benar ingin melupakannya. Tuhan memberikanku sebuah jawaban? Kalian tahu apa itu?

Perasaanku mengalir, memaksaku untuk menarikan pena yang telah lama mati. Hari itu Selasa, 28 April 2015 ku dapati diriku menangis bahkan amat sering sampai teman kosku berkata, “Kasian mas Ben”. Aku tak bisa tidur semalaman, makan pun juga aku indahkan. Parahnya lagi kejadian itu membuat aku down. Aku fakum kurang lebih selama dua minggu menanggalkan skripsi. Ujian ini terlalu besar ya Allah. Aku serasa tulang-tulangku dilolosi semua dari tubuhku. Lemas. Aku sangat membutuhkannya.

Sosok dia yang selama ini hilang bersama pekatnya malam. Namun, aku sadar aku bukanlah orang yang baik untuknya. Aku tak mungkin kembali karena aku menghargai keputusannya. Aku merasa kalau di antara kita berdua bisa saling melengkapi, mendukung, mensuport, dan merasa lebih hebat dibandingkan dengan apapun. Memang sih tak dipungkiri, melakukan sendiri pun juga bisa tapi nanti hasilnya akan berbeda jika dilakukan berdua. Jadi aku memutuskan untuk memohon kepada Allah Swt. berdoa, solat, yasinan, mengadu keluh kesah, dan memohon supaya netbook ku dapat dikembalikan. Aku berikhtiar mencoba mencari netbookku yang hilang. Alhamdulliah banyak sekali teman yang membantuku. 

Sunday, May 20, 2018

Kekerasan dalam Rumah Tangga




Kekerasan dalam rumah tangga
Karya  : Dibta Rosanto

          Sering kali hal-hal yang dianggap sepele justru dapat menjadi sebuah kesalahan yang besar. Berawal dari perbedaan pendapat atau perselisihan yang sering kali terjadi dapat menyebabkan terganggunya keharmonisan rumah tangga. Bahkan, hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan fisik yang terjadi di dalam lingkungan keluarga.
          Kekerasan fisik adalah kekerasan yang dapat terlihat pada tubuh manusia. Kekerasan fisik dapat berasal dari perkelahian, memukul, menampar, dan menyakiti anggota tubuh yang lainnya. Biasanya kekerasan fisik sering terjadi pada kehidupan sehari-hari karena emosi yang berlebihan. Selain itu, kekerasan juga dapat terjadi karena kelelahan sehingga mudah terpancing emosi. Sebagai contoh istri yang minta uang untuk keperluan sehari-hari, tetapi suami tidak memberikannya karena pendapatannya kurang. Hal itu dapat menimbulkan suami menjadi emosi dan temperamental. Hal ini dapat sangat berbahaya jika seseorang yang temperamental sampai melakukan kekerasan fisik.
          Adapun kekerasan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bersifat psikis. Kekerasan ini sifatnya kejiwaan atau hati seseorang yang disebabkan oleh kekerasan yang menimbulkan trauma sehingga kejiwaannya terganggu. Dewasa ini ada salah satu korban kekerasan yang berupa pelecehan seksual. Hal tersebut akan selalu teringat sehingga menimbulkan rasa ketakutan terhadap diri korban. Selain itu kekerasan psikis juga dapat terjadi pada seseorang yang dirinya pernah jadi korban asusila oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal itu menyebabkan korban menjadi pendiam, menyendiri, dan takut pada dunia luar.
          Kekerasan sering terjadi di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Yang menjadi korban yakni anak-anak, istri, pembantu, dan pelajar. Akhir-akhir ini sering kita jumpai kasus mutilasi, pemerkosaan, dan pembunuhan. Dalam lingkungan pelajar biasanya terjadi pelecehan seksual, tawuran, perkelahian, dan pembunuhan. Dalam lingkungan masyarakat kekerasan sering diakibatkan oleh persoalan cinta. Rasa ingin memiliki yang berlebihan, tetapi tidak terwujud maka akan menimbulkan rasa benci yang bermuara pada pemerkosaan dan pembunuhan.