Sunday, June 10, 2018

Abstrak Skripsi dalam Novel De Winst


ABSTRAK
Saputra, Canadian Aditya. 2013. “Bias gender dan Perjuangan Tokoh Utama Perempuan dalam Novel De Winst karya Afifah Afra Sebuah Kajian Feminisme dan Skenario Dan Pembelajarannya Di SMA”.
Permasalahan pokok yang penulis tulis dalam skripsi ini adalah (1) bagaimanakah wujud ketidakadilan gender perempuan dalam novel De Winst (2) bagaimanakah perjuangan tokoh utama perempuan dalam novel De Winst karya Afifa hAfra (3) bagaimana pembelajaran novel De Winst karya Afifah Afra di SMA. Tujuan penelitian ini adalah  (1) mendeskripsikan ketidakadilan gender (2) mendeskripsikan perjuangan tokoh utama perempuan (3) mendeskripsikan pembelajaran aspek feminis yang terkandung dalam novel De Winst karya Afifah Afra.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kepustakaan dan observasi. Sumber data adalah novel De Winst karya Afifah Afra, fokus penelitian menitik beratkan pada aspek gender dan perjuangan tokoh utama perempuan. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis dan kartu data.Dalam teknik analisis data menggunakan teknik analisisisi. Teknik penyajian hasil analisis adalah teknik informal, jadi data-data dipaparkan menggunakan kata-kata tanpa tanda atau lambang.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa : (1) ketidakadilan gender pada tokoh perempuan novel De Winst karya Afifah Afra dibagi menjadi dua bagian yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis (2) perjuangan tokoh perempuan antara lain memperjuangkan haknya atas penolakan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya, mengorbankan diri demi orang lain yang terbagi menjadi beberapa bagian antara lain bergabung dengan partai rakyat, mendirikan sekolah dilingkungan kraton, mendirikan sekolah untuk rakyat, dan mendidik Pratiwi untuk sukses (3) pembelajaran novel De Winst karya Afifah Afra di SMA diutamakan kemampuan dasar siswa mencakup aspek kognitif, sikap dan ketrampilan yang haurs dikuasai oleh siswa. Pembelajaran novel De Winst karya Afifah Afra menggunakan pendekatan pakem dengan langkah-langkah (a) pendahuluan (b) pendekatan inti (c) kegiatan penutup.
Kata kunci: bias gender, perjuangan fenisme, skenario pembelajaran.

Sejarah Kritik Sastra

 
A.    KEGIATAN KRITIK SASTRA YANG PERTAMA DI DUNIA
Kegiatan kritik sastra yang pertama dilakukan oleh bangsa Yunani (kurang lebih 500 SM) yang bernama Xenophanes dan Heraclitus, yakni ketika keduanya mengecam pujangga Homerus yang gemar mengisahkan cerita tentang Dewa-Dewi yang mereka anggap tidak senonoh dan bohong. Kata mereka berdua : “Homerus dan Hesiodes menyebutkan sifat-sifat dewa-dewi yang dianggap oleh masyarakat dianggap tidak senonoh lagi memalukan, yaitu pencurian, perzinaan dan penipuan.” Mereka berdua, yang diwakili oleh Heraclitus, selanjutnya secara lantang mengatakan karena hal-hal tersebutlah Homerus selayaknya tidak diberi hak  untuk mengikuti perlombaan-perlombaan atau pesta terbuka di Athena atau diseluruh wilayah Yunani. Dengan demikian, kedua pujangga Yunani masa lalu, Homerus dan Hesiodes, dicekal untuk tidak melakukan kegiatan olimpiade di Athena. Peristiwa kritik sastra yang pertama itu oleh Plato disebut sebagai “pertentangan purba antara puisi dan filsafat” (Hardjana, 1981:1). Di sini Homerus dan Hesiodes menulis puisi, menciptakan karya sastra yang penuh dengan nilai-nilai estetika, serta penuh kreativitas dan inovatif. Sementara itu Xenophanes dan Heraclitus berpijak pada filsafat tentang dewa-dewi yang selalu mereka puja. Oleh karena itu, kritik sastra yang pertama kali inilah yang bisa disebut dengan kritik sastra tradisional.
Kritik sastra tradisional tersebut kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh lain dari bangsa Yunani, seperti tokoh penyair komedian Aristophanes (450-385 SM) lewat karyanya katak-katak yang mencoba mengkritik penyair tragedi Euripides dengan mempertentangkn penyair tragedi pendahulunya Aeschylus, yakni karya-karya yang bernilai sosial (moral) dengan karya-karya yang bernilai seni. Kritik sastra yang dilakukan Aristhophane ini sudah mulai bergeser ke karya sastranya, dalam arti tidak semata-mata mengarah pada sastrawannya. Pada kritik Aristhophanes in i sudah mulai timbul pertentangan antara seni untuk masyarakat yang berguna bagi pembacanya, dan seni sastra yang hanya semata-mata demi sastra itu sendiri atau hanya untuk kepentingan estetika.

B.     KEGIATAN KRITIK SASTRA BERDASAR SEJARAH DUNIA

              I.     KRITIK SASTRA DI YUNANI
Sejarah munculnya istilah ‘kritik sastra’ (dunia/Barat)) awal pertama kalinya dipelopori oleh tiga orang tokoh besar asal negeri Yunani. Ketiga tokoh besar tersebut antara lain adalah Plato, Aristoteles, dan Longinus.
a.      Kritik Sastra Plato (427—347 SM)
Plato adalah salah satu tokoh atau orang pertama yang memperkenalkan istilah kritik sastra di dalam kaitannya dengan ilmu sastra. Berbekal dari ilmu filsafat yang banyak ia pelajari dari gurunya Sokrates (465—399 SM), sekitar tahun 387 ia mendirikan sekolah tinggi yang terkenal di Atena. Sekolah tinggi itu diberi nama Akademi. Di sekolah tinggi itulah Plato mulai mengajar dan mengembangkan kritik sastra. Salah satu karya bukunya yang terkenal adalah buku yang berjudul “Republik”, buku yang membahas tentang pandangan pembaca (kritik) tentang karya sastra puisi. Di dalam kaitannya dengan istilah kritik sastra, pandangan atau konsep yang disuguhkan Plato adalah pandangan atau konsep tentang ilmu mimetik (tiruan) yang menghendaki agar karya sastra (puisi) dapat berisikan ajaran-ajaran moral (bermanfaat; dulce).
Konsep Mimetik (tiruan) Plato:
Seniman (sastrawan) tidak akan mampu meniru realita, karena realita yang ditiru oleh seniman (sastrawan) hanyalah realita berdasarkan persepsi seniman (kepentingan tentang kepercayaan, ideology, dan lain-lain). Akan tetapi, bukanlah realita dalam arti yang sebenarnya oleh karena itu karya seni adalah palsu, tidak bermanfaat, dan dapat menjerumuskan pembaca/penikmat seni.


b.      Kritik Sastra Aristoteles (384—322 SM)
Tokoh pengembangan kritik sastra adalah Aristoteles yang juga berasal dari Yunani. Aristoteles adalah salah seorang murid yang membantah sekaligus mengembangkan konsep/pandangan gurunya sendiri, Plato.
Konsep Mimetik (tiruan) Aristoteles:
Seniman (sastrawan) memang tidak perlu meniru realita sebagaimana adanya—seniman (satrawan) meniru realita berdasarkan persepsi seniman sendiri, dan hebatnya karya seni (KS) yang diciptakan oleh seniman (satrawan) ditentukan oleh unsur (1) creatio (kreativitas dalam menciptakan fiksionalitas), dan (2) universalia (hal-hal yang universal/umum) yang memberI harapan baru memunyai efek bagi pembaca/penikmat seni. Pandangan atau konsep tentang kritik sastra Aristoteles terangkum dalam buku karangannya yang berjudul “Ilmu Poetika”. Di dalam buku “Ilmu Poetika” itulah Aristoteles mengembangkan kajian teori mimetiknya menjadi beberapa pokok pembahasan, antara lain sebagai berikut.
1.      Teori Puisi
a.       Dalam kaitannya dengan kritik, Aristoteles meninjau sebuah karya sastra (puisi) dari sudut hubungan puisi dengan manusia, misalnya tentang asal usul puisi. Pandangan konsep Aristoteles menyatakan bahwa sebuah karya sastra (puisi) terbentuk atau tercipta dari pembawaan lahir manusia (penulisnya sendiri). Dalam hal ini Aristoteles memunyai pemaknaan bahwa manusia senang meniru dan senang akan tiruan yang dilakukan oleh orang lain pula (pembawaan dari batin).
b.      Aristoteles menyetujui pendapat Plato bahwa puisi tercipta berdasarkan tiruan (imitation). Akan tetapi, ia member arti yang baru terhadap istilah tiruan tersebut. Baginya, tiruan sudah bukan menjadi sebuah jiplakan lagi, melainkan tiruan adalah suatu penciptaan kreatif. Artinya, pengarang (sastrawan) meniru dengan mengambil ide dari fenomena kehidupan manusia dan menciptakannya menjadi sebuah sesuatu yang baru (karya).
c.       Di dalam kaitannya dengan istilah kritik sastra, pandangan atau konsep yang disuguhkan Aristoteles adalah pandangan atau konsep tentang ilmu mimetik (tiruan) yang menghendaki agar karya sastra (puisi) yang tercipta (melalui penciptaan kreatif) memunyai fungsi utama, yakni member kesenangan untuk pembacanya (sesudah membaca kita menjadi merasa senang; utile).
2.      Teori Tragedi (drama) meniru dengan perbuatan (dipentaskan;  mimetik)
3.      Teori Epos, meniru dengan penceritaan (narasi; mimetik)
4.      Teori Komedi, meniru dengan lelucon, menjadi gila.

c.       Kritik Sastra Dionysius Cassius Longinus (210—273 M)
a.       Kritik sastra terangkum dalam sebuah karya tulisnya (tesis) yang berjudul “Tentang Keagungan”. “Tentang Keagungan” memunyai pemaknaan bahwa karya sastra yang agung adalah karya sastra yang bisa memberikan perenungan, yang bisa menarik perhatian kita tanpa kemauan kita, yang meninggalkan suatu kesan yang tak terhapus dari sanubari kita sendiri. Artinya, sebuah karya sastra yang agung (bagus) adalah karya sastra yang bisa menyenangkan manusia sepanjang abad (abadi; kanon).
b.      Dari konsep atau pandangan kecil itulah Longinus memaknai (menilai) sebuah karya sastra dari sudut pandang estetika (keindahan). Baginya, disamping karya sastra harus bermanfaat (dulce) dan memberi kesenangan (utile), penciptaan karya sastra harus bisa menimbulkan katarsis (perenungan, pembersihan, suci, dan bermanfaat).
c.       Catatan: Longinus adalah kritikus yang mempelopori kritik STILISTIKA dan memperkenalkan ILMU ESTETIKA.

Sastra Lokal, Sastra Nasional, dan Sastra Dunia



Menurut Bassnett (1993:12), nama sastra bandingan berasal dari suatu seri antologi Perancis yang terbit pada tahun 1816 dengan judul Cours de Litterature Comparee. Istilah dalam versi Jermannya Vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pertama kali dalam buku karangan Moriz Carriere pada tahun 1854, sedangkan dalam bahasa Inggris diperkenalkan oleh Matthew Arnold pada tahun 1848. Jadi, sastra bandingan dapat dikatakan masih muda. Pada awalnya studi sastra bandingan berasal dari studi bandingan ilmu pengetahuan, kemudian lahir studi bandingan agama, baru kemudian lahir sastra bandingan (Darma, 2003:8). Munculnya sastra bandingan bersamaan dengan munculnya jiwa nasionalisme pada zaman peralihan, yang pada saat itu negara-negara terjajah sedang mencari identitas mereka. Lahirnya sastra bandingan ini disebabkan oleh timbulnya kesadaran bahwa sastra itu plural, tidak tunggal (Darma, 2007:53).
Sastra bandingan memiliki sub sastra yang nantinya dibandingkan yaitu sastra lokal atau daerah, sastra nasional, dan sastra dunia. Masing-masing sub sastra ini memiliki pengertian dan konsep tersendiri namun semua jenis sastra ini bisa saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi.  Berikut ini pengertian dan konsep dari masing-masing sub sastra tersebut :

Tuesday, June 5, 2018

Laut Menangis








Laut menangis
Karya : Beni Purna I.

Aku selalu mengunjungimu
Meskipun itu hanya setahun sekali
Bersama riuh gemuruh orang yang ingin menikmatimu
Tuk melepas penat yang menggelayut manja di hati

Kau dulu sangatlah indah
Namun sayang beribu sayang
Mereka menodaimu dengan sampah
Mereka mengambil pasirmu yang indah
Meninggalkan luka yang membekas dalam dirimu

Memang ironis
Kau menangis dalam rintihan rinai hujan
Kau gelisah
Namun kau hanya bisa pasrah

Aku ingin menyelamatkanmu
Dengan cara sederhana yang mampu membuatmu bahagia
Menggetarkan hati mereka untuk ikut menjagamu
Menjaga dan melestarikan ekosistem laut

Semoga mereka tak lagi membuang sampah sembarangan
Tak lagi mengambil pasirmu secara ilegal
Tak lagi menangkap ikan dengan protas
Tak lagi mengahancurkan karang dengan pukat
Kau akan selalu dikunjungi banyak orang


Laut berbicara lewat tsunami









Laut berbicara lewat tsunami
Karya  : Beni Purna I.

Ketika aku terbelenggu oleh carut marut kehidupan
Oleh takdir yang sudah ditentukan
Aku sempat putus asa oleh kegagalan
Namun, batu karang di laut mengajarkanku untuk tetap kuat
Meskipun dihempas kerasnya ombak

Ku pejamkan mata perlahan
Merasakan belaian angin yang membalut perih
Suara desah ombak yang memecah kesunyian
Dan dekapan hangat sinarmu yang mampu menghapus lara

Kau bak surga dunia
Memanjakan mata dengan tubuh indahmu
Memberikan rizki kepada umat manusia
Menjaga dan melestarikan ekosistem laut

Namun semua itu sirna
Manusia hina
Menjamah dengan paksa tubuh indahmu
Menghancurkan stabilitas ekosistem laut

Laut berbicara lewat tsunami
Menghancurkan bumi
Membunuh ratusan bahkan jutaan manusia
Semoga Engkau mengampuni dosa kami ya Rabb


Sunday, June 3, 2018

Tiada Yang Sempurna









Tiada Yang Sempurna
Oleh : Dyah Budi Utami


          Pagi itu matahari sudah terbit dari ufuk timur. Embun pagi masih menempel di dedaunan. Tertimpa cahaya matahari terlihat kemilau keperak-perakan. Burung-burung pun berkicauan seolah ikut menyambut cerahnya pagi itu.
          Ada dua ekor kupu-kupu bernama Shinta dan Reni yang sedang asyik terbang ke sana ke mari mencari madu.“Reni, di sana ada banyak madu “ kata Shinta mengawali percakapan. “Wah…kita ke sana yuk!” jawab Reni. Mereka terbang menghampiri bunga-bunga yang berada  di tengah-tengah rumpun pohon talas.
          Terlihat Lulu si belalang yang duduk melamun sendirian. “Selamat pagi, Lulu?” sapa Reni. “Eh…selamat pagi juga,” jawab Lulu. “Kalian mau apa kemari?” tanya Lulu penasaran. “Kami mau mengambil madu itu,” jawab Shinta. “O…,silakan,” kata Lulu. Shinta dan Reni menghisap madu yang ada dalam bunga itu.
          Lulu heran melihat Shinta dan Reni. Dia memandangi dirinya sambil berkata dalam hati. “Kok jauh sekali perbedaan diriku dengan mereka ya. Sayap Shinta dan Reni indah sekali. Hampir semua warna ada pada tubuh mereka. Hijau, ungu, kuning, putih, merah, dan masih banyak lagi. Sedangkan aku?” Lulu memandangi dirinya kembali dengan malu. Cuma warna hijau agak coklat yang selalu setia menghiasi dirinya. “ Duh, jeleknya,”  bisik Lulu dalam hati.
          Lulu melamun sesaat meratapi nasibnya. “Hei…pagi-pagi kok sudah melamun,” tiba-tiba pertanyaan Reni mengejutkan Lulu. “Aku merasa malu sama kalian,” jawab Lulu. “Malu sama kami, mengapa?” tanya Shinta penasaran. “Lihatlah diriku! Sayapku jelek tidak seperti sayap kalian. Aku hanya bisa melompat, melompat, dan melompat. Uuhh …menyebalkan,” keluh Lulu. “Begitu saja kok malu. Dulu kami juga jelek bahkan lebih parah darimu,” cerita Reni. “Benarkah itu?” tanya Lulu. “Ya iya lah. Dulu kami berwujud ulat yang sangat buruk. Kami tidak sempurna, berjalan sangat lambat apalagi kalau terkena sinar matahari. Ah…. pokoknya semua jijik ketika melihat kami,” cerita Shinta. Lulu asyik mendengar cerita Shinta dan Reni. “Saat kami jadi ulat bentuk kami sangat buruk, kami pun merasa malu. Tapi, kami tidak putus asa. Kami berdoa pada Tuhan agar kami diberikan perubahan bentuk yang lebih baik. Kami sengaja tidak makan apa pun, tidak minum, dan tidak bergerak sedikit pun. Akhirnya kami pun merasakan perubahan itu. Kami sangat bersyukur usaha yang kami lakukan tidak sia-sia. Dan, hasilnya ya seperti saat ini,” cerita Reni sambil memamerkan sayapnya. “Apa aku boleh berdoa kepada Tuhan?” tanya Lulu. “Tentu saja boleh,” Reni menjelaskan dengan serius.
“Apa wujudku bisa berubah juga seperti wujud  kalian?” tanya Lulu lagi. “Kalau itu kita sih nggak tahu,” jawab Shinta dan Reni serempak. “Semua yang terjadi di dunia ini hanya Tuhanlah yang tahu,” kata Shinta. “Kalau aku puasa, apa Tuhan akan mengabulkan permintaanku?” lagi-lagi Lulu bertanya. “Tuhan akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang wajar-wajar saja. Tapi, mengapa kamu menginginkan perubahan pada dirimu? Kamu sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk berwujud seperti ini, dan kami ditakdirkan oleh Tuhan  mengalami perubahan yang lebih baik pada diri kami. Tapi, siapa tahu Tuhan akan memberikan keajaiban padamu,” jelas Reni. “Ya ampun, hari sudah siang nich, kami harus pulang membantu ibu mencari madu untuk makan malam nanti,” kata Shinta. “Selamat tinggal Lulu, daaah…sampai jumpa besok ya,” sapa Shinta dan Reni pada Lulu. “Ya, sampai jumpa besok, kita main bareng lagi ya,”  kata Lulu.