![]() |
| UNSUR KEMENARIKAN ALUR |
Analisis
unsur kemenarikan alur dalam novel “di Bawah Langit Jakarta” karya Guntur Alam
Alur
sebagai salah satu unsur intrinsik mempunyai keindahan tersendiri. Di bawah ini
merupakan keindahan alur
yang terdapat dalam novel di Bawah Langit Jakarta karya Guntur
Alam, yaitu sebagai berikut.
1)
Tegangan (suspense)
Tegangan
terjadi ketika bapak menghadiri undangan ke
sekolah membahas tunggakan SPP. Sugiharto dan Mas Umar gelisah menanti
keputusan dari pihak sekolah terhadap nasib sekolahnya. Sekolah masih memberikan
keringanan sehingga membuat Sugiharto bersemangat. Bahkan ia sangat semangat
mengahadpi ujian kenaikan kelas yang tinggal beberapa hari lagi. Namun, salah
satu temannya yang bernama Darmanto memaksanya untuk memberikan contekan.
Sugiharto menolak memberikan contekan sehingga membuat dirinya dipukuli oleh
Darmanto. Kejadian tersebut membuat Sugiharto ketakutan terhadap kemarahan
ayahnya. Perkataan ibu yang berterus terang tentang kejadian itu mampu membuat
bapak tidak sampai marah. Lalu bapak hanya berpikir cara untuk menyelamatkan
masa depan Sugiharto dengan cara menitipkannya di rumah Paman Sukir. Berikut
kutipan novel saat bapak menghadiri
undangan ke sekolah.
“Pagi ini, nasib kami akan diputuskan. Masih diberi ampunan dan
perpanjangan waktu atau harus mengakhiri mimpi sampai sini saja.”
Kutipan di atas berisi sikap pasrah yang ditunjukkan Mas Umar dan Sugiharto
dalam menunggu keputusan terhadap nasib sekolahnya. Ternyata sekolah masih
memberikan kesempatan untuk belajar. Hal itu dimanfaatkan Sugiharto dengan cara
giat belajar menjelang ujian kenaikan kelas. Namun, Sugiharto mengalami
pertentangan dalam hati nuraninya ketika Darmanto memaksanya memberikan
contekan.
“Aku sudah ngomong kemarin. Jangan pelit!” bentaknya. Aku agak mengeret.
Aku ingat ucapannya itu, tetapi aku tak bisa melakukannya. Banyak sekali
pertentangan dalam hatiku. Tiba-tiba saja, tinju besar Darmanto mendarat di
wajahku. Aku meringis dan terjatuh. Rasa sakit menghantam wajahku seketika.
Sepertinya wajahku remuk.”
Sesuai dengan data tersebut dapat disimpulkan bahwa Darmanto sangat kecewa
dan marah dengan sikap Sugiharto. Sugiharto terlihat
begitu ketakutan. Darmanto dengan marahnya memukul wajah
Sugiharto sampai membengkak. Nasib Sugiharto kembali dipertanyakan ketika dirinya
disuruh untuk tinggal di rumah Paman Sukir.
“Aku sendiri bingung. Terlalu banyak perasaan yang berkecamuk. Aku ingin
terus bersekolah dan mewujudkan impianku, tetapi tidak dengan cara seperti ini.
Aku tak ingin berpisah dengan orang-orang yang kucintai. Rasanya seperti terbuang.
Ya terbuang.”
Dari data di atas dijelaskan bahwa Sugiharto berada pada
posisi yang tidak nyaman. Ia bingung dengan pilihan bapaknya dengan cara
seperti itu. Ia merasa dirinya telah dibuang oleh keluarga. Sugiharto belum
menyadari bahwa pilihan bapak yang terbaik untuknya.
2)
Daya duga bayang (foreshadowing)
Daya
duga bayang terjadi ketika bapak membawa
keluarganya pindah dari Medan ke Jakarta tanpa sepengetahuan Sugiharto. Hal itu
membuat pembaca menduga bahwa ada alasan yang membuat bapak memutuskan untuk
pindah di Jakarta.
“Kehidupan kami di
Jakarta sangat miskin. Aku tak tahu kenapa dulu bapak mengajak kami pindah ke
sini. Pernah sih, aku ingin bertanya kepada ibu karena aku pikir ibu pasti tahu
alasannya. Akan tetapi, aku tak berani. Jadi, ku pendam saja rasa penasaranku
sampai detik ini.”
(di Bawah Langit Jakarta, 2014 : 12).http://vinasanggraeni.blogspot.com/2018/07/sinopsis-novel-di-bawah-langit-jakarta.html
Pada
kutipan di atas, pengarang menggambarkan kehidupan keluarga Sugiharto yang
sangat miskin selama di Jakarta. Sugiharto juga tidak tahu alasan bapak pindah ke Jakarta. Namun, penonton
dapat menduga bahwa perpindahan bapak
beserta keluarga pasti mempunyai sebab. Dugaan
penonton terbukti dengan adanya kutipan
yang berisi penjelasan Bang Abdul terkait dengan alasan sebenarnya bapak pindah ke
Jakarta.
“Setahun setelah kalian tiba di Jakarta, peristiwa Gerakan 30 September
1965 pecah. Ekonomi bangsa kita morat-marit. Presiden Soekarno digulingkan.
Padahal, beliaulah harapan bapak kalian pindah ke sini. Harapannya itu padam.”
Dalam kutipan tersebut dijelaskan bahwa Bang Abdul mengungkapkan alasan Bapak
yang ingin menjadi salah satu Menteri di bawah pemerintahan Presiden Soekarno.
Lengsernya Presiden Soekarno membuat cita-cita Bapak musnah. Karena hal
tersebut, akhirnya Bapak hanya bekerja sebagai penjual bubur kacang hijau.
Daya
duga bayang dalam novel ini terjadi
pada saat Sugiharto lupa tidak meminta
uang saku untuk sekolah. Hal itu membuatnya harus pulang jalan kaki
berkilo-kilo meter. Pembaca dapat menduga bahwa Bi Karminah beserta keluarganya pasti sangat khawatir
dengan keadaan Sugiharto yang belum sampai rumah menjelang magrib.
“Bu, Sugi pulang Bu!” teriak Lilik yang berdiri di depan rumah. Sepertinya
aku sudaah membuat kehebohan.
Bi Karminah muncul dengan wajah demikian lega. Dia menatapku dengan mata
berkaca-kaca. Tergesa beliau menyongsongku yang demikian kuyu dan lelah.
“Kamu ke mana saja, Gi? Baru pulang sekarang. Bibi khawatir sekali. Paman
dan Mas Sugeng sedang mencarimu dengan motor.”
Dari kutipan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dugaan pembaca
terbukti dengan adanya rasa khawatir yang ditunjukkan Bi Karminah beserta
keluarganya. Kekhawatiran itu membuat Paman Sukir dan Mas Sugeng sampai
mencarinya dengan sepeda motor. Daya duga bayang selanjutnya terjadi ketika
satu minggu menjelang ujian, Bapak belum juga melunasi tunggakkan SPP. Pembaca
dapat menduga peristiwa yang akan terjadi selanjutnya.
“Tolong serahkan
surat ini kepada bapakmu. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas.” Hanya kalimat
itu yang Bu Fatimah ucapkan. Ekspresi wajahnya seperti yang kukenal. Datar.
Tanpa senyum sama sekali. Aku bahkan belum melihat Bu Fatimah tersenyum.
Mungkinkah dia memang tak bisa tersenyum? Entahlah.
Sesuai dengan data di atas, dugaan pembaca terbukti
dengan adanya surat panggilan kepada Bapak akibat belum dapat melunasi SPP. Bapak
diminta datang ke sekolah guna membahas tunggakan tersebut.
3)
Kejutan (surprise)
Kejutan
terjadi ketika Bapak memutuskan untuk menitipkan
Sugiharto kepada Paman Sukir, ketika Tuti akan membayar kredit kepada Bi Karminah, ketika Bi Karminah membelikan sepatu baru untuk Sugiharto, dan ketika
Sugiharto ingin memberikan hasil tabungannya kepada Pei.
Di antara Sugiharto dan Mas Umar akan dititipkan kepada Paman Sukir. Hal
tersebut dilakukan Bapak untuk menyelamatkan masa depannya agar tidak perlu
menunggak SPP lagi. Percakapan Mbak Sum dan Ibunya membuat Sugiharto terkejut.
Pembaca mengira bahwa Sugiharto tidak akan pernah mau untuk tinggal bersama
Paman Sukir. Namun, diluar dugaan ternyata Sugiharto bersedia membantu
keperluan Bi Karminah dan Paman Sukir. Pembaca merasa terkejut dengan
tindakannya.
“Bapak ke mana Bu?” tanya Mba Sum
“Ke Priok. Ke Rumah Paman Sukir.”
“Ada apa?” Mbak Sum bertanya lagi.
“Bapak mau nitip Ugi atau Umar ke sana biar bisa terus sekolah.” jawab Ibu.
Beliau tergesa menoleh, tak ingin bertatapan mata denganku.
(di Bawah Langit Jakarta, 2014 :
72).
“Aku mau tinggal di Priok Pak.” ucapku mantap tanpa basa-basi lagi.
Berdasarkan kutipan di atas, pengarang menggambarkan
bahwa Sugiharto atau Mas Umar akan dititipkan kepada Paman Sukir. Hal tersebut
membuat Sugiharto sedih bila harus berpisah dengan keluarga. Setelah berpikir
matang-matang, akhirnya Sugiharto bersedia untuk membantu keluarga Paman Sukir.
Sikap Sugiharto yang demikian itu tidak sesuai dengan dugaan pembaca yang
mengira bahwa ia tidak akan mau tinggal di rumah Paman Sukir.
Sugiharto diantarkan Bapak pergi ke rumah Paman Sukir dan Bi Karminah.
Sugiharto sudah membawa keperluan perlengkapan yang dibutuhkan selama tinggal
di rumah Paman Sukir. Pembaca menduga bahwa Sugiharto tidak akan betah tinggal di
rumah Paman Sukir. Namun, pembaca merasa terkejut dengan kedatangan Tuti yang
mampu membuat Sugiharto merasa nyaman berada di rumah itu.
“Mendadak rasa ganjil itu kembali merayapiku. Tanpa aku sadari, aku
senyum-senyum sendiri. Pikiranku yang tadi begitu mumet lantaran masih dipenuhi
bayang-bayang ketakutan akan hidup jauh dari Bapak dan Ibu, kini berubah dalam
sekejap. Semua terasa indah laksana taman penuh bunga.”
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa Sugiharto mulai merasa senang
dengan kesan pertama yang membuatnya bertemu dengan Tuti. Peristiwa itu mampu
mengusir ketakutan dalam diri Sugiharto dan membuatnya betah tinggal di rumah
Paman Sukir. Dugaan yang terbesit dalam diri pembaca tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan pembaca karena Sugiharto akhirnya merasa senang ada di rumah
Paman Sukir. Kejutan juga terjadi ketika Bi Karminah merasa empati melihat
sepatu Sugiharto yang rusak. Lalu hatinya tergerakkan untuk membelikan sepatu
yang baru untuk Sugiharto.
“Tak hanya itu, setelah melihat sepatuku yang demikian mengerikan, Bi
Karminah membelikanku sepatu yang baru. Aku sampai menangis melihatnya setelah
Bi Karminah pergi. Aku tak ingat, kapan kali terakhir aku memakai sepatu yang
benar-benar baru, bukan bekas.”
Pada paparan tersebut, dijelaskan bahwa setelah melihat
sepatu Sugiharto yang makin rusak akibat pulang jalan kaki, hati Bi Karminah
tergerakkan untuk membelikannya sepatu yang baru. Sugiharto merasa sangat
senang. Hal tersebut di luar dugaan pembaca yang tidak mengira akan dibelikan
sepatu baru bukan sepatu bekas punya Lilik. Kejutan selanjutnya terjadi ketika
terbesit niat untuk membantu Pei bersekolah. Ia sangat baik kepada sahabatnya
sampai pembaca benar-benar terkejut dengan yang dilakukannya untuk Pei, yaitu
memberikan uang tabungannya selama dua tahun.
“Sampai siang ini,
ketika aku hendak memasukkan beberapa uang logam ke dalam celengan tanah liat
yang kubeli setahun lalu, mendadak sebuah ide terlintas. Kuangkat celengan jago
itu. Cukup berat. Mungkin sudah lebih dari setengah tubuh ayam ini berisi uang
logam. Uang itu sisa ongkos sekolah, sisaa belanja dari Bi Karminah, dan
sedikit dari gajiku. Aku tidak tahu berapa jumlah di dalamnya. Aku sudah
mengisinya selama dua tahun. Apa uang ini cukup untuk Pei sekolah?”
Kutipan di atas berisi niat baik Sugiharto membantu Pei agar dapat terus
bersekolah. Sebagai sahabatnya, ia merasa iba dengan musibah yang dialami Pei
dan ingin membantu menyelamatkan masa depannya. Ia berniat memberikan uang
tabungannya selama dua tahun untuk sekolah Pei. Tindakannya tersebut mampu
membuat pembaca terkejut.
